COOMB’S TEST

  1. PRINSIP DASAR COOMB’S TEST

Coomb’s test adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi pada permukaan eritrosit dan antibodi anti sel eritrosit dalam serum. Antibodi ini menyelimuti permukaan eritrosit yang menyebabkan umur eritrosit menjadi lebih pendek dan sering menyebabkan reaksi inkompatibel pada transfusi darah.1,2

Perusakan sel-sel eritrosit yang diperantarai antibodi terjadi melalui aktifasi sistem komplemen, aktifasi mekanisme seluler, atau kombinasi keduanya. Secara keseluruhan aktifasi sistem komplemen akan menyebabkan hancurnya membran sel eritrosit dan terjadilah hemolisis intravaskuler. Sistem komplemen diaktifkan melalui jalur klasik ataupun jalur alternatif. Antibodi yang memiliki kemampuan mengaktifkan jalur klasik adalah IgM, IgG1, IgG2, IgG3. IgM disebut sebagai agglutinin tipe dingin, sebab antibodi ini berikatan dengan antigen polisakarida pada permukaan sel darah merah pada suhu di bawah suhu tubuh. Antibodi IgG disebut sebagai agglutinin tipe hangat karena bereaksi dengan antigen permukaan sel eritrosit pada suhu tubuh normal.1,3

Mekanisme imun hemolisis ekstraseluler dan hemolisis intraseluler

Beberapa kondisi berikut yang menyebabkan pembentukan antibodi antara lain:

  1. Reaksi Transfusi

Darah manusia mempunyai antigen pada permukaan eritrosit. Dalam proses transfusi darah, darah pendonor harus cocok dengan darah resipien. Jika dilakukan transfusi darah dengan antigen yang berbeda (darah yang tidak cocok), maka sistem kekebalan tubuh akan menghancurkan sel-sel darah yang ditransfusikan. Ini disebut reaksi transfusi dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau bahkan kematian.2,3

  1. Rh Sensitisasi

Rh adalah antigen (rhesus faktor). Jika seorang wanita Rh- hamil dengan Rh bayi (janin) positif, sensitisasi Rh mungkin terjadi. Bayi mungkin memiliki darah Rh+ jika ayah  memiliki darah Rh+. Sensitisasi Rh terjadi ketika darah bayi bercampur dengan darah ibu selama kehamilan atau proses persalinan. Hal ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh ibu membuat antibodi terhadap sel eritrosit bayi di kehamilan berikutnya. Respon antibodi ini disebut sensitisasi Rh dan bisa menghancurkan sel-sel eritrosit bayi sebelum atau setelah lahir.2,3

  1. Anemia Hemolitik Autoimun

Anemia hemolitik autoimun adalah penyakit yang menyebabkan antibodi dalam tubuh menyerang sel eritrositnya sendiri. Berbagai faktor yang berperan terjadinya kerusakan eritrosit adalah antigen sel eritrosit, antibodi-anti sel eritrosit dan komponen non imunoglobulin misalnya protein komplemen serum.2,3

 

  1. COOMB’S REAGEN

       Coomb’s test pertama kali ditemukan oleh Coombs, Mourant dan Race pada tahun 1945. Reagen coombs merupakan antihuman globulin (AHG). Darah manusia yang menderita anemia hemolitik autoimun dan dipisahkan serum yang mengandung autoantibodi kemudian diinjeksikan pada hewan (kelinci atau murine). Hewan tersebut akan memproduksi antibodi poliklonal terhadap imunoglobulin manusia dan sistem komplemen. Reagen AHG ini menggunakan buffer LISS dengan anti-human globulin polispesifik. Campuran dari anti Ig-G poliklonal kelinci dan anti C3d antibodi monoklonal dan anti IgM dari murine.4

  1. PROSEDUR PEMERIKSAAN COOMB’S TEST

Pemeriksaan coomb’s test dilakukan dengan 2 teknik yaitu direct antiglobulin test dan indirect antiglobulin test.5,6

  1. Direct antiglobulin test/Direct Coomb’s test

Direct antiglobulin test (DAT) adalah pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi atau komplemen yang terikat pada sel eritrosit  invivo dengan menggunakan AHG, terutama IgG dan komplemen C3d. Sel eritrosit yang akan diperiksa dicuci dengan saline (Nacl 0,9%) kemudian ditambahkan reagen AHG selanjutnya disentrifus. Setelah itu diamati ada atau tidak adanya aglutinasi.5,6

Direct antiglobulin test digunakan untuk mendeteksi penyakit autoimun hemolitik anemia (AIHA) dan reaksi imun oleh karena transfusi.5

Proses direct antiglobulin test6Proses direct antiglobulin test6

Pemeriksaan Direct Antiglobulin Test positif menunjukan suatu anemia hemolitik autoimun, dibagi menjadi 2 tipe yaitu tipe warm dan tipe cold, tergantung pada apakah antibodi bereaksi lebih kuat dengan eritrosit pada suhu 37oC atau 4oC.2,3

Pada tipe warm, eritrosit dilapisi dengan imunoglobulin G (IgG) secara tersendiri atau dengan komplemen, kemudian diambil oleh makrofag pada sistem retikuloendotelial yang mempunyai Fc Receptor. Bagian dari membran yang terlapisi tersebut hilang, sehingga sel menjadi semakin sferis untuk mempertahankan volume yang tetap dan akhirnya dihancurkan, terutama di limpa dan sistem retikuloendotelial. Antibodi yang terdapat pada permukaan eritrosit yang bebas dalam serum  paling baik dideteksi pada suhu 37oC.1,3

Pada tipe cold, antibodi yang berperan adalah IgM yang optimal berikatan dengan eritrosit pada suhu 40C dan berikatan dengan komplemen. Pemeriksaan Direct Antiglobulin Test menunjukkan komplemen (C3d) hanya pada permukaan eritrosit.1,3

 

  1. Indirect antiglobulin test/Indirect Coomb’s test

Indirect antiglobulin test digunakan untuk mendeteksi reaksi antara sel eritrosit dengan antibodi atau komplemen yang melekat/menyelubungi pada sel eritrosit  invitro. Serum pasien diinkubasikan pada sel eritrosit lalu sel eritrosit dicuci dengan saline dan ditambahkan AHG. Aglutinasi setelah penambahan AHG memiliki makna bahwa serum mengandung antibodi yang reaktif dengan antigen pada sel eritrosit. 7,8

Indirect coomb’s test digunakan selain pada tranfusi darah juga untuk mendeteksi incompatible rhesus (Rh).  Wanita Rh- yang hamil atau berencana untuk hamil berarti dia memiliki antibodi terhadap darah Rh+ (sensitisasi Rh). Saat awal kehamilan jenis darah bayi akan diperiksa, jika darah bayi Rh+ maka ibu harus mendapat pengawasan ketat selama kehamilan untuk mencegah  masalah dengan sel eritrosit bayi. Jika sensitisasi belum terjadi maka dapat dicegah dengan suntikan Immunoglobulin anti RhD.6,8

Indirect coomb’s test positif pada wanita Rh- yang hamil atau berencana untuk hamil berarti dia memiliki antibodi terhadap darah Rh+ (sensitisasi Rh). Saat awal kehamilan jenis darah bayi akan diperiksa, jika darah bayi Rh+ maka ibu harus mendapat pengawasan ketat selama kehamilan untuk mencegah  masalah dengan sel eritrosit bayi. Jika sensitisasi belum terjadi maka dapat dicegah dengan suntikan Immunoglobulin anti RhD. Indirect coomb’s test negatif pada wanita Rh- yang hamil berarti tidak ada antibodi anti Rh+ dalam darah dan belum terjadi sensitisasi.7,8

Indirect coomb’s test negatif pada transfusi darah berarti darah pendonor dan darah penerima compatible (cocok).7,8

Saat ini, pemeriksaan coomb’s test menggunakan metode gel seperti halnya pada pemeriksaan crossmatch. Prinsip pemeriksaan metode gel adalah penambahan suspensi sel dan serum atau plasma dalam microtube berisi gel di dalam buffer berisi reagen (Anti-A, Anti-B, Anti-D, enzim, Anti-IgG, Anti komplemen). Microtube selanjutnya diinkubasi selama 15 menit pada suhu 370C dan disentrifus. Aglutinasi yang terbentuk akan terperangkap di atas permukaan gel. Aglutinasi tidak terbentuk apabila eritrosit melewati pori-pori gel dan akan mengendap di dasar microtube.

KESIMPULAN

  1. Coomb’s test adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi pada permukaan eritrosit dan antibodi anti sel eritrosit dalam serum.
  2. Direct antiglobulin test (DAT) untuk mendeteksi antibodi atau komplemen yang menyelubungi sel eritrosit invivo dengan menggunakan AHG, terutama IgG dan C3d.
  3. Indirect antiglobulin test digunakan untuk mendeteksi reaksi antara sel eritrosit dengan antibodi atau komplemen yang melekat/menyelubungi pada sel eritrosit

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Aljedai A. Immune Haemolytic Anaemias. [cited on September 2010]. Available from : http://www.emedicine.com.
  2. Sudarmanto B, Taman M. Anemia Hemolitik. Dalam : Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. 2010. Jakarta, Badan Penerbit IDAI: 51-3.
  3. Ryzkita MV. Anemia Hemolitik. Dalam : HMPD Magazine. London, Blackwell Science.
  4. Antihuman globulin reagen. [cited on October 2016]. Available from: http://bio-rad.com.
  5. Antibody Test. [cited on July 2016]. Available fom : http://www.webmd.com/a-to-z-guides/antibody-tests#1.
  6. Direct Antiglobulis Test. [cited on November 2016]. Available from : https://labtestsonline.org/understanding/analytes/antiglobulin-direct/tab/test/.
  7. Karp JK, Jefferson T. Direct Antiglobulin Testing. [cited on October 2016]. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1731264-overview.
  8. Makram N. Antibody Screening. [cited on April 2016]. Available from : https://www.slideshare.net/naglaamakram/pretransfusion-testing-final-ab-screening-naglaa-makram

 

oleh :

dr. Merdyani Darkuthni. SpA,

Dr. dr. Nadirah Rasyid Ridha, Sp.A (K)

Prof. Dr. dr. H. Dasril Daud, Sp.A (K)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page