Peranan Trombosit Pada Imunologi bagian 2

Trombosit Berperan dalam mekanisme Innate Immunity.

Interaksi trombosit dengan bakteri tergantung pada sifat dan konsentrasi bakteri, waktu interaksi, dan melibatkan banyak mekanisme. Peran trombosit dalam menghadapi bakteri pathogen dengan cara bekerja sama dengan neutrofil  membentuk jala penjerat bakteri yang melibatkanToll-like receptor 4 (TLR4) yang dapat mendeteksi LPS dan menginduksi ikatan trombosit  untuk mengimobilisasi (mengikat) neutrofil. Interaksi tidak langsung  seperti melalui pengikatan protein plasma,termasuk fbrinogen, faktor von Willebrand, komplemen atau IgG, yang menjembatani patogen dan trombosit atau melalui interaksi dengan toksin bakteri. Interaksi dengan patogen dapat menyebabkan adhesi trombosit atau aktivasi mereka, agregasi dan pelepasan mediator trombosit. Mekanisme pembersihan patogen oleh trombosit mungkin langsung, melalui pelepasan berbagai antimikroba peptida dan tidak langsung melalui pelepasan turunan mediator trombosit yang mengoordinasikan kemotaksis dan aktivasi sel imun. Infeksi umumnya dikaitkan dengan cedera jaringan. Sel  yang terluka menghasilkan mediator seperti alarm yang memicu inflamasi. Mediator dihasilkan oleh kerusakan sel seperti komplemen produk aktivasi dan histones dapat mengaktifkan trombosit. Meskipun demikian, trombosit juga berkontribusi terhadap respon imun adaptif terhadap infeksi.8

Tiga Mekanisme trombosit teraktivasi dapat memediasi interaksi sel-sel dan memengaruhi respons imun bawaan

(A) Trombosit TLR memungkinkan trombosit teraktivasi  untuk mengikat dan menangkap bakteri. Selanjutnya, trombosit dapat secara langsung membunuh bakteri dengan memproduksi  trombocidin atau dengan mengumpulkan di sekitar bakteri dan “menjebak” mereka untuk dihilangkan oleh fagosit. (B) Trombosit juga dapat secara heterotif berinteraksi dengan berbagai sel, termasuk leukosit. Trombosit yang teraktivasi meningkatkan penambatan dan aktivasi neutrofil melalui ekspresi selektin, CD154 (juga dikenal sebagai CD40L), dan sitokin serta kemokin inflamasi. (C) Trombosit yang teraktivasi dapat meningkatkan aktivasi monosit dan sel dendritik (DC), khususnya melalui interaksi CD40-CD154. Hal ini menyebabkan peningkatan presentasi antigen pada sel T dan meningkatkan respons imun adaptif. MHC, major histocompatibility complex; TCR, T-cell receptor.12

Melalui transduksi sinyal TLR2 menginduksi ekspresi P-selektin (CD62P) dan GPIIb/IIIa (integrin αIIβ3) pada permukaan trombosit. Molekul ini memfasilitasi interaksi trombosit dengan neutrofil sehingga terjadi fagositosis mikroba patogen. Clark dkk, melaporkan bahwa TLR4 menginduksi ikatan trombosit-neutrofil melalui  NETs (Neutrophil Extracellular Traps) , perangkap ekstraseluler neutrofil jaringan, sebagai perangkap patogen. Setelah bakteri terjerat, akan mempermudah proses fagositosis bakteri tersebut oleh neutrofil.6,8,9,13

Pembentukan NETs

Trombosit bersirkulasi lebih dekat ke dinding pembuluh darah dan merasakan gangguan endotelium. Pada sepsis, banyak faktor seluler untuk mengaktifkan endotelium. Endotelium yang diaktifkan/ terluka adalah pendorong utama aktivasi trombosit. Sinyal yang dihasilkan oleh infeksi, inflamasi dan koagulasi juga dapat mengaktifkan trombosit pada sepsis. Aktivasi trombosit berkontribusi untuk memicu berbagai pro-inflamasi dan jalur pro-koagulan dengan konsekuensi yang berpotensi merusak pada homoeostasis dan integritas endotelium. Aktivasi trombosit yang tidak dikurangi pada sepsis dapat mengambil bagian penting dalam skenario global yang kompleks yang mengarah pada gangguan penghalang endotelium dan kegagalan sirkulasi mikro, penyebab utama disfungsi organ pada sepsis.

Mekanisme pembentukan NET ini hanya akan terjadi pada kondisi ekstrim seperti pada sepsis berat dan TLR4 dari trombosit berfungsi sebagai alat pemicu yang penting. Dengan penggunaan antibiotik, mengurangi mekanisme pembentukan NET untuk menjerat dan membunuh bakteri, penghambatan mekanisme ini dapat mengurangi kerusakan jaringan.8

Trombosit Mempengaruhi Limfosit sebagai Pertahanan Tubuh.

Trombosit memiliki potensi mengaktifkan kekebalan adaptif. Elzey dkk menunjukkan bahwa trombosit memfasilitasi interaksi sel T/B melalui CD40 menyebabkan produksi antibodi. CD40 menginduksi sitokin, kemokin, dan mediator lipid melalui aktivasi CD+40 sel. Sitokin ini mempotensiasi fungsi neutrofil dalam pertahanan terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Henn dkk, menemukan bahwa trombosit melepaskan CD40L yang mengatur respon sel endotel dalam mediasi vaskular sebagai pertahanan tubuh. 6,7,8

Efek trombosit teraktivasi pada infeksi virus

pada saat aktivasi, trombosit melepaskan α-granula mereka, yang mengandung jumlah tinggi CXCL4, yang meningkatkan pengaturan koagulasi dan perekrutan leukosit. Selain itu, CXCL4 mengurangi infeksi HIV tetapi juga meningkatkan fibrosis hati. CCL5, kemokin lain yang diturunkan dari granul, juga mengurangi infeksi HIV dan meningkatkan tanggapan limfosit Th1 pada infeksi HCV dan berfungsi sebagai sinyal bertahan hidup bagi makrofag dalam infeksi influenza. Trombosit melepaskan PMP dan β-defensin dari α-butirannya, yang memediasi netralisasi virus. Mereka melindungi splenocytes dari nekrosis pada infeksi LCMV. Butiran padat trombosit mengandung 5-HT, yang memungkinkan regenerasi hati tetapi juga infeksi HBV dan HCV. Aktivasi trombosit mengarah pada ekspresi dan pelepasan CD154 dan CD62P, yang memungkinkan interaksi langsung antara trombosit dan leukosit. Interaksi trombosit dengan limfosit B meningkatkan pembentukan pusat germinal dan produksi IgG antivirus. Trombosit memicu diferensiasi T-limfosit dan sitotoksisitas serta kelangsungan hidup dan diferensiasi monosit. Dalam neutrofil, adhesi trombosit merangsang produksi ROS dan meningkatkan fagositosis. Interaksi trombosit dengan sel dendritik meningkatkan maturasinya dan memfasilitasi presentasi antigen. Akhirnya, aktivasi trombosit menghasilkan interaksi dan aktivasi trombosit lebih lanjut, yang memicu agregasi trombosit dan memperkuat proses yang dijelaskan di atas.CCL5, chemokine (C–C motif) ligand 5; CXCL4, C–X–C chemokine ligand 4, GP, glycoprotein; HBV, hepatitis B virus; HCV, hepatitis C virus; HIV, human immunodeficient virus; IgG, immunglobulin G; LCMV, lymphocytic choriomeningitis; PMPs, Platelet antimicrobial peptides; PSGL-1, P-selectin (CD62P) glycoprotein ligand-1; sCD154, soluble CD154/CD40 ligand; Th1, T-helper lymphocyte type 1; 5-HT, serotonin.14

Trombosit Berperan dalam Remodelling Jaringan.

Trombosit juga berperan dalam remodelling  jaringan, penyembuhan luka, misalnya dengan melepaskan faktor pertumbuhan  PDGF dan TGF-b yang meregenerasi matriks ekstraseluler dalam perbaikan jaringan.  Selain itu faktor pertumbuhan lainnya yang dibebaskan dari trombosit seperti VEGF, FGF, IGF-1, P-degF, faktor ini  berperan dalam perbaikan jaringan yang merupakan bagian integral dalam penyembuhan luka.6

Aplikasi klinis Peranan Trombosit Pada Imunologi

Trombositosis reaktif (sekunder), jumlah trombosit >500 x 109 /l tetapi < 1000 x 109 /l. Trombositosis reaktif sering terjadi pada bayi prematur dan setelah infeksi, terutama meningitis. Infeksi akut atau kronik merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya trombositosis reaktif. Pada trombositosis reaktif terjadi peningkatan pelepasan sitokin sebagai respon terhadap infeksi, inflamasi, vaskulitis, trauma jaringan dan faktor lain :trombopoetin (TPO) dan interleukin 6, suatu sitokin primer untuk pembentukan trombosit, akan meningkat sebagai respon awal dan merangsang peningkatan produksi trombosit.

Kesimpulan

  1. Trombosit memiliki reseptor pada permukaan dan butiran sitoplasma yang berperan sebagai antimikroba yaitu sebagai protein mikrobicidal
  2. Trombosit berinteraksi langsung dengan mikroba patogen dengan mengeluaran thrombocidin & tidak langsung dengan mekanisme innate immunity melalui aktivasi neutrofil dan monosit serta imunitas adaptif melalui limfosit T, Limfosit B dan sel dedritik.
  3. Trombosit berperan dalam remodelling jaringan.
  4. Aplikasi klinis peranan trombosit pada imunologi yaitu trombositosis reaktif (sekunder) sebagai respon terhadap infeksi.

Daftar Pustaka

  1. Hoffbrand, A.V dan Mehta, A 2008.At a Glance Hematologi. edisi 2 Erlangga Medical Series.
  2. Campbell, Neil A. (2008). Biology (edisi ke-8th). London: Pearson Education. hlm. 912
  3. Hoffbrand, A.V dan Moss, P.A.H., 2013. Trombosit, Koagulasi Darah, dan Hemostasis (Kapita Selekta Hematologi edisi 6). Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
  4. Bain, B.J. 2014. Trombosit, Koagulasi dan Hemostasis (haematology : A Core Curriculum) . Penerbit Buku Kedokteran.EGC.
  5. Harrison, Paul. Trombosit function available at http:// www. sciencedirect. com/ science/article.
  6. Yeaman, M.R dan Bayer, A.S.2013. Antimicrobial Host Defense. Chapter 37 (hal ;812-846). Elsevier.
  7. Yeaman, Michael R. Bacterial–trombosit interactions: virulence meets host defense. March 2010. Future Microbiology. Vol. 5, No. 3, Pages 471-506
  8. Trier, Darin A. , Gank, Kimberly D. , Michael R. Yeaman., Trombosit Antistaphylococcal Responses Occur through P2X1 and P2Y12 Receptor-Induced Activation and Kinocidin Release.Published ahead of print 29 September 2008, doi: 1128/​IAI.00935-08 Infect. Immun. December 2008 vol. 76 .
  9. Carsten D., Paul K. Platelets and infection. Semin Immunol (2016),http://dx.doi.org/10.1016/j.smim.2016.10.005
  10. Antoine D., et al. Blood platelets and sepsis pathophysiology: A new therapeutic prospect in critical ill patients?.Dewitte et al. Ann. Intensive Care (2017) 7:115

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Peranan Trombosit Pada Imunologi bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page